Pengen Berbisnis, Mulainya Dari Mana?

12:16 PM

“Mulainya dari mana sih kalau mau berbisnis?”, itulah pertanyaan yang sering aku dengar dari teman-teman yang ingin berbisnis sepertiku, tetapi bingung. Mau berbisnis apa, perlu belajar ketrampilan apa, dari mana mulainya, dari mana uangnya, dan masih banyak kebingungan lainnya. Terus terang, dulu aku juga bingung mau menjawab apa, karena awal perjuangan tiap orang untuk memulai bisnis itu berbeda-beda. Belum tentu, awal mulaku bisa diterapkan oleh mereka untuk memulai bisnis juga.

Belum lama ini ada obrolan santai yang ‘ngena’ banget untuk menjawab pertanyaan itu, kali ini aku yakin bisa diterapkan ke semua orang. Sewaktu sedang senggang aku main ke rumah temanku,saat itu ia sedang menggunting kain panjang (proses cutting) yang akan diberikan ke penjahit. Obrolan random pun dimulai, dari ngerumpi sampai akhirnya ia bilang, “Tahu nggak? Walaupun cuma punya gunting kain besar yang harganya paling mahal 25 ribu ini, kamu tetap bisa ‘makan’ dari benda ini lho!” Aku bingung, lalu menanyakan, “Kok bisa?” Ya, ternyata bisa. Hanya bermodalkan gunting kain (yang semua orang bisa beli di mana saja) dapatdigunakan untuk mendapatkan pekerjaan atau memulai bisnis. Kita tidak perlu keahlian apapun, kecuali keterampilan dasar yaitu menggunting, enak bukan?

Cara memulai bisnisnya pun sederhana, mendatangi setiap penjahit yang mungkin membutuhkan jasa potong kain. Iya, kalau kalian paham proses menjahit, salah satu bagiannya adalah cutting atau memotong kain sesuai pola. Ketika para penjahit tidak punya partner atau cukup waktu untuk memotong kain, mereka akan senang untuk dibantu, tentunya dengan kompensasi. Memotong kain, buat mereka termasuk menghabiskan waktu, karena bahan kain menjadi produk jadi itu banyak sekali tahapnya. Kalau pesanan mereka banyak, tentu hal remeh seperti memotong kain menjadi permasalahan penting. Itu baru satu penjahit, jika kamu bisa dapat lebih dari tiga atau lima, bukankah akhirnya kamu bisa menjadikan hal ini sebagai peluang bisnis, dan bisa mendapatkan uang dari situ? Sangat sederhana, mudah diaplikasikan, tidak butuh banyak biaya untuk modal, serta tidak perlu belajar keahlian tertentu.

Bermula dari percakapan itu, aku kembali mengingat awal mula membuat Folksy Magazine. Betul juga ya, dulu aku juga seperti itu memulai bisnis dengan hal yang sederhana dan kusukai, yaitu membuat tutorial dan membaca majalah. Hanya dengan modal 250 ribu, aku cetak semua artikel dan tutorial yang kubuat, lalu aku jilid sendiri dan menjualnya di acara Jogja Zine Fest. Ketika semua ludes terjual, uang itu aku putarkan untuk membuat lebih banyak lagi, begitu seterusnya hingga aku sampai di tahap seperti ini.




MEMULAI BISNIS DARI APA YANG KITA BISA DAN PUNYA
Apa sih yang lagi kita sukai? Menulis? Ilustrasi? Menjahit? Memasak? Hal sederhana yang kita suka dan ada di keseharian coba kita kerjakan dulu, tidak perlu membeli alat dan bahan yang mahal, gunakan yang sudah ada atau kalau memang membeli, jangan berlebihan. Maksimalkan mengerjakan sesuatu dengan modal alat dan bahan seperti itu dulu. Lalu, mulai tawarkan ke teman, saudara, dan lingkungan sekeliling. Bukankah di jaman sekarang untuk menawarkan jasa dan produk sangat mudah melalui media sosial? Gunakan platform itu secara maksimal.

KONSISTEN
”Oke aku sudah bikin dan menawarkan ke teman, tapi kok belum pada beli ya? Aduh aku capek gini terus, atau aku tidak bakat berbisnis? Aku berhenti saja gimana? Udah habis-habisan nih, aku nggak punya uang lagi.” Iya, itu yang terjadi pada proses saat kita mulai berbisnis. Sebaiknya, sebelum kalian memulai bisnis, ketahui dulu bahwa akan ada masa dimana kalian merasa putus asa karena bisnis tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Biasanya, putus asa akan datang ketika kamu sudah bosan dengan kondisi yang tidak berubah, padahal itu termasuk proses lho, dan kamu yang sebenarnya berperan besar akan cepat lambatnya kondisi itu berubah. Ketika sudah membuka usaha, selanjutnya kalian perlu KONSISTEN. Konsisten untuk mempromosikan, konsisten untuk produksi, konsisten untuk membuat strategi pemasaran, konsisten untuk membuat gebrakan atau ide baru, dan sebagainya.

Memang berat, aku juga berkali-kali mengalaminya. Namun, bagaimana pun kalian harus bisa bertahan. Cobalah bikin to do list (list yang akan kalian kerjakan tiap bulannya untuk mencapai tujuan/goals). Lalu, lakukan evaluasi baik tentang produk atau jasa yang kalian buat tersebut. Kenapa produk dan jasa kamu belum diminati? Setelah itu, boleh saja kalian “mengintip” kompetitor dan survey pasar. Bermula dari setiap bulannya membuat to do list, goals, dan evaluasi, itu akan sangat membantu kamu untuk bisa konsisten. Nggak percaya? Coba deh kalian pikirkan misalnya: goals bulan ini produk harus terjual 10 buah, to do list-nya: aku harus titip ke toko A, harus coba bikin packaging yang menarik, harus kerjasama dengan si B untuk membantu mempromosikan, dll; kerjakan itu semua. Pada akhir bulan kalian bikin evaluasi, mana list yang berhasil dan mana yang tidak, kenapa tidak bisa berhasil? Coba dibikin lagi dengan mengubah strategi. Begitu seterusnya, sampai akhirnya kamu tidak lagi memiliki waktu untuk putus asa, tapi malah merasa antusias untuk memikirkan strategi dan menjalankan hal-hal baru untuk mencapai target kamu tiap bulannya. Mulai dari situ, secara tidak langsung kamu sudah belajar untuk konsisten.



Bagaimana, kalian akan mulai mencobanya? Atau malah langsung ingin mundur membatalkan keinginan berbisnis? Apapun pilihan kalian, tentu akan selalu ada konsekuensi baik dan buruk yang harus dikerjakan.



Cheers,


---------------------------------------------------------
Foto oleh Luthfi Satya

You Might Also Like

0 comments

Subscribe