Bagaimana Cara Berdamai Dengan Perubahan?

1:18 PM



“Hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan itu sendiri”. 

Qoute ini pastinya pernah bahkan sering didengar ya. Berbicara tentang perubahan, akan ada situasi emosional yang menyertai. Perubahan yang sesuai harapan tentu akan diikuti dengan pengalaman emosi yang menyenangkan. Namun tidak demikian dengan pengalaman perubahan yang berbeda dengan harapan, apalagi bertolak belakang dengan rencana yang telah disusun dan mulai dijalani. Situasi yang tidak sesuai keinginan ini akan mudah memunculkan tekanan tersendiri secara psikologis. Lebih lanjut, bila tidak dikelola cara meresponnya, akan mampu berdampak negatif terhadap diri tidak hanya secara psikologis tapi dapat pula bagi produktifitivas maupun kualitas pribadi pada umumnya.

Berusaha agar dapat merespon perubahan adalah langkah paling realistis. Karena manusia dan kehidupan terus berjalan maka perubahan adalah sesuatu yang memang tidak dapat dihindari. Yang dibutuhkan adalah bagaimana supaya kita mampu menyelaraskan antara perkembangan jaman dengan kondisi kita. Ini cara paling ‘waras’ untuk dapat bertahan. Apakah dengan mengikuti arus, upgrading kemampuan, atau memunculkan cara lain yang sesuai dengan diri kita. Kita perlu memilih cara yang paling feasible kita lakukan.

Kunci bertahan adalah daya adaptasi. Namun, bagaimana sih konkretnya proses penyesuaian ini? Kenali yuk indikator respon menyesuaikan diri yang kita miliki, apakah sudah memilih respon penyesuaian yang  produktif?

Respon umum terhadap situasi di luar harapan: fight atau flight
Secara teori ada dua bentuk respon yang akan dimunculkan manusia ketika menghadapi suatu situasi: fight (menghadapi) atau flight (menghindari). Ketika kamu menemukan dirimu lebih mudah menghindar, bersembunyi, atau menyerah, sebetulnya kamu sedang menjauhi proses penyesuaian diri atas situasi. Sebaliknya, bila kamu  menantang dirimu untuk mencoba menghadapi  tantangan, perubahan, atau masalah , maka sebetulnya kamu sedang berusaha menghadapi permasalahanmu sekaligus meningkatkan daya adaptasimu. Memang terkadang menantang (kalau tidak mau disebut sulit).  Manakah pola yang kamu miliki selama ini?

Apakah mau: menyadari kondisi diri atau mengingkari kenyataan (denial)?
Ketika sedang menghadapi tantangan atau tekanan karena terjadi perubahan, mampukah diri kita untuk mengenali apa sih yang dimaui terhadap situasi tersebut? Apa yang menjadi kebutuhanku? Dan apakah yang tidak aku miliki (kekuranganku) sehingga dapat menjadi celah untuk gagal menghadapi situasi sulit ini? Sudahkah kita memiliki kemaupuan untuk melihat diri kita daripada berfokus pada masalah semata? Atau ternyata respon dominan yang muncul justru sikap mengingkari? Misalnya kata-kata dalam hati “tentu saja aku tidak bisa menghadapi ini, karena situasinya memang salah”. Atau misalnya yang lain “Ini bukan karena aku ngga bisa, tapi memang situasi yang tidak berpihak padaku”. Sikap pengingkaran akan cenderung memasukkan kita pada situasi jauh dari respon adaptif.

Terbuka untuk masukan dan bantuan
Ketika sedang menghadapi tantangan, tekanan atau kegelisahan karena situasi tidak sesuai  harapan, sangat mudah diri kita tidak mampu menalar dan berlogika dengan benar. Oleh karena itu, penting lho mendapatkan pandangan dari pihak lain, dari orang lain yang bisa berpikir lebih rasional dan objektif. Maka, ketika memang ada situasi yang tidak terkontrol atau kita mulai mengenali bahwa diri kita tidak dapat berpikir jernih, coba yuk untuk membuka diri terhadap berbagai perspektif dan masukan. Namun perlu dipastikan pula bahwa sumber kita mampu berpikir objektif sehingga dapat memberikan masukan yang bermanfaat untuk kita. Jangan lupa, kita pun perlu mempersiapkan diri terhadap kritik atau penilaian negatif yang bisa jadi tidak nyaman di telinga. Kita perlu melihat kritik tersebut sebagai penyadaran untuk menuju langkah lebih baik.

Meningkatkan kemampuan  vs menyerah sebelum berusaha
Ketika sedang mendapat masalah atau menghadapi situasi tidak seperti harapan, pasti akan muncul situasi menekan (stres) maupun emosi negatif. Yang ada di pikiran berfokus pada bagaimana keluar dari situasi tidak menyenangkan ini secepatnya! Apakah kamu akan cenderung melihat apa yang perlu kamu lakukan untuk dapat keluar dari situasi ini lalu merencanakan hal yang perlu dilakukan, termasuk berfokus pada kekuatanmu? Tidak malu mencari ilmu bahkan dari seseorang yang lebih ‘junior’ dari dirimu?  Atau justru penuh dengan keluhan, mencari pembenaran serta belas kasihan dari sana sini dengan harapan akan ada pihak lain yang menyelesaikan masalahmu? Sikap dan langkah konkrit yang diupayakan untuk dapat keluar dari situasi tidak menyenangkan tersebut merupakan contoh respon adaptif terhadap tuntutan atau perubahan. Sedangkan bila yang lebih dominan adalah keluhan dan sikap menggerutu tentu tidak akan ada perubahan positif yang akan terjadi bukan?

Membangun daya dukung untuk meningkatkan kemampuan merespon atau isolasi diri?
Ada kalanya kita tidak lagi hanya dapat sekedar mengandalkan kekuatan diri kita semata. Ada persoalan atau hambatan yang perlu mendapatkan campur tangan pihak lain supaya kita dapat bertahan dan lolos dari persoalan. Proses penyesuaian juga membutuhkan kemampuan kita untuk mengukur kebutuhan dukungan dari pihak luar diri. Ketika pada poin kedua kita mendapati diri kita memiliki kelemahan yang perlu direspon dengan bantuan dari pihak lain, maukah kita terbuka untuk belajar dari orang lain? Atau kembali ke sikap pengingkaran yakni lalu mengisolasi diri seperti malahan menarik diri, menutup diri atau bahkan menghindari pertemuan dengan pihak yang sebetulnya dapat diajak bekerja sama untuk mampu menyesuaikan situasi yang telah berubah ini? Respon seperti mau bekerja sama, berkolaborasi, atau belajar dari pihak lain menjadi beberapa indikator bahwa kita bersedia membangun daya dukung untuk merespon perubahan secara sehat.

Mengenali tanda proses adaptasi dapat membantu kita untuk melangkah konkrit melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang sedang kita hadapi. Bila mundur bahkan menyerah cenderung  menjadi pilihan kita ketika menghadapi situasi yang berbeda dari harapan, akankah kita mencapai suatu tahap keberhasilan dalam hidup? Selamat mencoba.





Writer: Lucia Peppy, psikolog Wiloka Workshop
Artikel ini pernah dipublikasikan di Folksy Magazine 17th edition

You Might Also Like

0 comments

Subscribe