5 Cara Menemukan Keunikan Produk untuk Bersaing Dengan Kompetitor

10:17 AM


Bayangkan jika ada dua crafter yang sama-sama membuat boneka / plushie. Mereka sama-sama bekerja keras untuk mengoptimalkan ‘toko’ mereka, mengambil foto yang bagus, menulis detail/deskripsi produk dengan baik, dan gencar melakukan promosi. Jika dilakukan survey, kedua crafter mungkin menarik perhatian audiens yang sama besarnya (misalnya, jumlah ‘like’ yang sama di Facebook mereka atau jumlah pengikut yang sama di IGnya). Tapi crafter A ternyata tidak menjual banyak, sementara crafter B sangat sibuk memenuhi pesanan, menjawab pesan-pesan dari konsumen (baru maupun lama), sembari mengetes produk/desain barunya. Kemudian crafter A sadar bahwa satu-satunya cara adalah dengan menurunkan harga, tapi dengan segera ia juga jadi kehilangan profitnya, dan malah sekarang harus ‘bersaing’ dengan produsen massal boneka yang kualitasnya tidak terlalu bagus. Sebaliknya, crafter B dapat menggunakan profitnya untuk memperluas ‘lini produk’nya, seperti dapat membuat cushion atau mungkin ring pillow.

Apa bedanya? Jelas bukan kategori – mereka sama-sama membuat boneka / plushie yang bagus dan berkualitas. Bukan caranya menggunakan media sosial, bahkan juga bukan jumlah pengikutnya. Sepertinya crafter B telah menemukan beberapa cara untuk ‘menarik hati’ konsumen yang tidak diketahui oleh crafter A.

Di dunia handmade Indonesia yang semakin berkembang ini, sepertinya banyak yang merasa seperti crafter A. Tapi menjadi crafter B juga belum tentu enak, Kuncinya tidak tergantung pada benda apa yang kita jual, tapi lebih kepada bagaimana kita memosisikan produk kita ini. 

Dalam dunia bisnis, kalo nggak salah ada yang namanya ‘competitive positioning’, semacam proses untuk menemukan beberapa perbedaan yang berarti antara kita dengan para ‘kompetitor’ atau kayaknya lebih enak disebut ‘teman-teman crafter lain’ ya, dan gimana caranya membangun reputasi kita diantara teman-teman ini. 

1. Mengenali konsumen
Apa yang dibutuhkan dan diinginkan? Apa yang mereka sukai dan yang sering dipertimbangkan? Apakah harga, kualitas atau pelayanan? Apakah mereka menginginkan desain yang terbaru, atau malah menyukai yang antik? Cari detailnya sebaik mungkin dan ingat bahwa mungkin produkmu akan diinginkan oleh beragam jenis konsumen. 

Misalnya, crafter yang menjual renda crochet, mungkin konsumennya adalah seorang ibu yang hanya membeli satu meter untuk hiasan di baju anaknya, atau desainer dress yang membutuhkan beberapa puluh meter untuk satu line desainnya yang membutuhkan renda crochet. Kalo kita nggak kenal, jadi nggak pernah tahu kan? 

2. Meneliti ‘kompetisi’
Siapa lagi ya yang bikin produk yang sama dengan kita? Dan jangan berhenti dengan ‘kompetitor’ itu saja, tapi cari tahu juga apa ada produk kita yang lain, yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen? Kadang kita terpaku hanya dengan satu atau dua orang saja, dan keburu ‘nggrundel’ duluan “ih kok dia bikin ini, bikin itu sih. Padahal aku juga mau bikin..” hehehe...omelannya disimpen dulu aja, daripada ngomel-ngomel mendingan survey target pasar kita sendiri, dan ya cari tau siapa tau produk yang disukai konsumen kita bukanlah produk yang kita anggap ‘produk unggulan’ 


3.Tentukan nilai keunikanmu!
Nah sekarang coba tanya dirimu sendiri, apa yang terbaik dari dirimu? Apakah seorang perfeksionis dengan standar kualitas yang tinggi? Apa punya banyak konsep/ide menarik? Apakah kamu suka mengerjakan custom order dari konsumen? Apakah kamu tahu banyak tentang sebuah pasar tertentu yang tidak banyak diketahui orang lain? Beberapa hal ini adalah contoh dimana kamu bisa meningkatkan bakat alami kamu dan membantu kamu memosisikan diri dalam ‘kompetisi’. 

Buatlah daftar, lalu dari daftar itu kamu akan menemukan apa yang unik dari karya-karya buatanmu. Misalnya:
“Saya membuat aksesoris dengan charm yang saya buat (atau dibuat pengrajin) sendiri, jadi saya tahu persis kualitas bahan yang digunakan, cara perawatannya, dan bahkan saya mampu menawarkan garansi jika ada kerusakan sebelum produk dipakai...”

Jangan minder dan rela ngasih harga semurah-murahnya kalau kamu memang membuat produkmu sendiri 

4. Memilih strategi ‘positioning’
Duh bahasanya bisnis banget. Ehem...jadi  setelah mengenai konsumenmu, mengerti siapa saja yang menjadi kompetitormu, dan setelah mengetahui hal-hal positif dari dirimu...tentukan satu hal ini: Hal apa yang aku ingin orang banyak tahu tentang diriku (atau produkku)? Agak sulit ya, karena biasanya banyak mau dan emang gak ada batas sih, gimana cara kamu ngejelasin produk craft-mu, tapi yang umum digunakan biasanya:
- Kualitas produk: misalnya menggunakan material eksklusif dan langka
- Desain: menawarkan desain yang fungsional atau estetis?
- Pelayanan: Melakukan apapun sebisamu untuk memenuhi kepuasan konsumen.
- Inovasi: Memperkenalkan variasi yang baru dan tak terduga pada produk yang udah ada.
- Fokus: Secara menyeluruh melengkapi satu kategori khusus.
- Authenticity: Menetapkan kredibilitas yang unik dalam satu bidang khusus.

Kamu juga bisa menambahkan ciri khas produkmu menurut letak geografis (sesuai budaya lokal, misalnya), cerita personal, teknologi atau proses khusus, atau perasaan yang biasanya disampaikan konsumen (mewah? Manis? Imut? Horor?). Kemungkinannya ada banyak sekali. Tapi apapun yang kamu pilih, ada beberapa peraturan yang tetap harus diperhatikan:
- Harus berhubungan dengan pembeli.
- Bahwa konsumen hanya akan mengasosiasikan dengan satu-atau dua faktor saja. Jadi pilihlah dengan hati-hati.
- Harus sulit ditiru (!!)
Dan yang paling penting adalah: konsisten. Ujilah tiap ide barumu menurut hal-hal tersebut. Setidaknya, tanya pada diri sendiri sebelum ‘launching’ produk baru, apakah produk yang kita tawarkan unik dan orisinil. Jika tidak, ‘move on’ ke yang lain aja 

5. Selaraskan semuanya.
Memiliki ‘positioning strategy’ itu bagus, tapi akan lebih baik lagi jika semuanya selaras. Ingatlah misalnya ketika tagline produkmu ‘batik otentik’, pastikan setiap keputusanmu mendukung tagline ini. Apakah material batikmu benar-benar otentik (batik cap / batik tulis, bukan pabrikan)? Apakah menggunakan proses tradisional? Dan lain sebagainya..Memperkuat ‘positioning strategy’ di brand craft mu akan membawa kesan konsistensi dan soliditas ke konsumen, dan akan membuatmu semakin unik di mata mereka. 


Salah satu catatan utama adalah bahwa seringkali kata ‘kompetisi’ memiliki konotasi yang buruk. Berkompetisi tidak buruk kok. Seringkali, kompetisi adalah sesuatu yang membuat pasar handmade / craft menjadi semakin menarik – tiap crafter terus mencoba memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara-cara yang inovatif. Membuat sebuah ‘positioning strategy’ memungkinkan kita untuk fokus kepada hal-hal yang membuat craft shop kita unik; berkompetisi di bidang yang sangat kita senangi, dan membangun reputasi tersendiri di depan konsumen. Ketika dilakukan dengan benar, kompetisi yang sehat akan terjadi dan tiap individu akan sulit untuk ditiru. Selamat berkarya! 




---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penulis: Lois Nur Fathiarini
Crafter. Ibu 2 anak. Tattoist
Instagram: @stroberihitam

You Might Also Like

0 comments

Subscribe