Edukasi Pembalut Kain Ramah Lingkungan oleh Biyung

11:31 AM

Salah satu kontribusi sampah terbesar di dunia adalah pembalut sekali pakai. Bayangkan, kita (perempuan) membuang pembalut minimal 4 buah dalam sehari, lalu dikalikan maksimal 6 hari. Dalam sebulan kita sudah menambah (minimal) 24 sampah sekali pakai. Itu baru seorang saja, bagaimana hitungannya kalau dengan jumlah perempuan yang ada di dunia? Wah sampai susah dihitung ya. Belum lagi menurut penelitian Stockholm University, plastik di dalam bungkus pembalut memerlukan waktu sekitar 500 - 800 tahun untuk terdegradasi. Hal ini berarti sampah pembalut sekali pakai memerlukan waktu penguraian lebih lama dari sampah plastik botol yang memerlukan waktu antara 70 - 450 tahun untuk terdegradasi. Data yang semakin membuka mata semua orang di dunia untuk mulai membuat alternatif lain sebagai pengganti pembalut kain. Di beberapa negara bahkan sudah mulai beralih dengan mengkampanyekan dan menggunakan menstrual cup.  

Selain menstrual cup, ternyata ada pilihan lain lho yang bisa kita gunakan, yaitu pembalut kain. Pembalut dari kain? kok jadi balik ke jaman dulu lagi ya? Iya, dulu ibu-ibu kita pernah merasakan jaman masih menggunakan pembalut dengan kain, bedanya pembalut ini sudah berbentuk dan berukuran seperti pembalut sekali pakai yang sering kita gunakan. 


Biyung, adalah brand yang menjual produk pembalut kain untuk perempuan. Berawal dari sebuah proyek homeschooling pada tahun 2016, Westiani Agustin (Ani) memberikan tugas pada kedua anak perempuannya (yang saat itu usia setara SMP) untuk membuat project usaha/bisnis dengan kriteria : usaha di rumah, produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan harus memberi kontribusi positif bagi orang lain atau lingkungan sekitar. Mereka pun memutuskan untuk memilih membuat usaha produksi pembalut kain. Sambil belajar siklus usaha, akhirnya Ani ikut terlibat aktif membantu kedua anaknya mulai dari membuat desain, kemudian eksplorasi belanja bahan, pembahanan, jahit tangan, mencari penjahit, sampai menjualnya secara online dengan membuka akun di Instagram dengan nama Biyung. Tahun 2018 kedua anaknya memilih untuk masuk SMA formal, dan Ani memilih resign dari pekerjaan, untuk fokus meneruskan mengelola Biyung sampai sekarang.

Produk pembalut kain dari Biyung ini sangat menarik karena menggunakan kain batik berwarna-warni. Selain dijadikan untuk ciri khas yang membedakan produk yang sejenis yang sudah ada, pemilihan kain batik ini juga mendapatkan respon pasar cukup baik, karena ternyata batik sebagai sandang sangat dekat dengan kehidupan perempuan.


Kalau kita lihat di akun Instagram Biyung, selain menjual produk, Ani juga memberikan beberapa edukasi tentang pemakaian sekaligus perawatan pembalut kain, dan memberikan beberapa pelatihan (workshop) membuat pembalut kain. Ani melihat bahwa sudah seharusnya kesehatan reproduksi menjadi hak setiap perempuan, termasuk hak untuk memilih dan memakai pembalut yang aman, sehat dan nyaman. Dan membayangkan kalau semakin banyak perempuan yang memakai pembalut kain, berarti semakin banyak perempuan yang semakin sehat, dan harapannya signifikan dengan usaha mengurangi sampah plastik dari pembalut sekali pakai.

Kegelisahan ketika mendapati perempuan yang minim akses informasi, pengetahuan dan jauh dari akses transportasi, atau tidak mampu secara ekonomi, agar mereka tetap bisa mendapatkan haknya itu, Ani pun berinisiatif untuk memberikan pelatihan secara gratis. Seperti workshop yang pernah diadakan di Gunung Kidul. Sekelompok perempuan di sebuah dusun di Gunung Kidul yang meminta Biyung untuk mengajari membuat pembalut sendiri, karena ingin mencoba beralih memakai pembalut kain. 

Banyak lho keuntungan yang bisa kita dapatkan dari menggunakan pembalut kain Biyung. Dijelaskan lebih lanjut oleh Ani, yaitu kita jadi lebih bisa mengenal tubuh kita sendiri; lebih aman dan sehat buat tubuh kita; lebih hemat; jadi belajar sabar; jadi kontribusi nyata untuk mengurangi sampah; dan lebih banyak berkat kebaikannya, karena banyak tangan dan pemikiran yang terlibat dan mendoakan, dalam pembuatan pembalut kain  (dari pedagang kain, dan material yang lain, penjahit, admin).


Meskipun mulai dikenal dan memiliki pasar yang semakin luas, Ani ternyata masih memiliki banyak rencana dan harapan kedepan untuk brand Biyung-nya. Ani ingin workshop pembalut kainnya bisa menjangkau banyak lagi kelompok-kelompok perempuan di pelosok pedesaan; ingin mengadakan kampanye tentang hak kesehatan reproduksi bagi perempuan yang minim akses komunikasi, transportasi dan untuk remaja di sekolah; ingin agar pembalut kain tersedia di beberapa puskesmas, klinik, dan rumah sakit; hingga ingin agar pembalut kain jadi salah satu kebutuhan kesehatan yang dijamin oleh BPJS.

Beralih ke pembalut kain dari pembalut sekali pakai memang membutuhkan banyak penyesuaian dan mungkin bagi kita terdengar akan menjadi repot, tetapi memberikan yang terbaik untuk tubuh kita sendiri tidak akan membuat kita menyesal di kemudian hari :)

Biyung bisa didapatkan di beberapa tempat di Yogyakarta:
- Di rumah Biyung di Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul
- Milas Vegetarian Resto, jl. Prawirotaman IV
- Mimosa Market di AOA Workingspace di jl. Selokan Mataram, Seturan
- Peonyecohouse, Jl.Kaliurang KM 5
- TakirKiosBulk, Jl.Bibis Raya, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul

Atau online di Instagram: Biyung
Foto: dokumentasi Biyung

You Might Also Like

0 comments

Subscribe