Kenapa Penderitaan Terasa Lebih Menyenangkan?

9:17 PM


Pernahkah kalian menemui kejadian seperti ini:

A: "Sudahlah, dia orangnya kasar, suka mukulin kamu, lebih baik putus saja daripada setiap hari kamu menangis terus"
B: "Nggak, aku yakin dia pasti nanti berubah, dia sebenarnya baik kok, dia juga sayang sama aku. Kita juga sudah berpacaran 6 tahun, dan kami sama-sama sudah berumur 28 tahun. Sebentar lagi kami akan menikah"

atau

A: "Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan bos kamu dan suasana kantor yang tidak lagi sehat, mending kamu keluar aja deh, resign."
C: "Resign gimana? gaji disitu tuh lumayan banget, kerjaannya juga nggak berat-berat amat. Aku nggak bakal bisa dapetin kerjaan seperti itu lagi kalau resign."

Dua kondisi diatas mirip sekali ya, adanya kesadaran bahwa situasi yang dialami membuat menderita tetapi tetap saja mau menjalaninya. Apakah kamu salah satu yang juga sedang merasakan kondisi seperti di atas? Apakah pilihan yang kita ambil sudah tepat untuk tetap "stay" dikondisi seperti itu (nggak mau putus dan nggak mau resign) ?

Yuk coba kita lihat menggunakan teori psikologi yang dibikin oleh Sigmund Freud (seorang psikoanalisis yang berpengaruh dalam studi Psikologi), yaitu The pleasure-pain Principle (Prinsip Pleasure dan Pain). Sudah terlihat secara gamblang dari nama teorinya, teori ini menjelaskan bahwa secara psikologis, orang cenderung termotivasi untuk mencari atau melakukan sesuatu yang menyenangkan (pleasure), dan menghindar pada sesuatu yang menyakitkan (pain)Pain dan pleasure ini dirasakan baik secara fisik maupun mental/emosi. Contoh rasa sakit secara emosi (pain): kecewa, marah, frustasi, sedih, sakit hati, dll. Sedangkan rasa senang secara emosi (pleasure): bahagia, aman, nyaman, cinta, dll.

Hal yang benar dalam pikiran sadar kita adalah memaknai rasa sakit sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan atau mengakibatkan penderitaan. Sedangkan rasa senang adalah sesuatu yang menimbulkan rasa bahagia, nyaman. Nah sekarang yang menjadi permasalahan adalah ketika pikiran bawah sadar kita salah dalam memaknai pain dan pleasure. Menurut seorang hipnoterapis, Adi W Gunawan, pada pikiran bawah sadar, pain adalah segala sesuatu yang tidak ia kenal (unknown). Sedangkan pleasure adalah segala sesuatu yang ia kenal (known). Jadi, walaupun sesuatu ini buruk menurut pikiran sadar, namun bila dikenal oleh pikiran bawah sadar maka ini tetap dirasakan sebagai pleasure. Dan karena ini adalah pleasure sudah tentu pikiran bawah sadar akan berusaha keras  untuk mempertahankannya.

Contohnya kita ambil salah satu kasus di atas, si C yang tidak mau resign dari pekerjaannya meskipun selalu diperlakukan tidak baik oleh atasannya dan suasana kantornya yang sudah tidak sehat. Si C ini tahu benar bahwa kondisinya tidak baik tetapi dia senang bisa mendapatkan gaji yang banyak dan memiliki pekerjaan yang jelas (pada pikiran bawah sadarnya hal ini sangat dikenali sebagai pleasure). Sedangkan pain yang dirasakan si C adalah jika resign dia akan merasa frustasi dan dia ketakutan apakah dia bisa menemukan pekerjaan yang menyenangkan dan memiliki gaji seperti yang dia dapat di kantornya sekarang.

Contoh lain lagi yang ada dalam keseharian kita, ketika kita tahu benar bahwa mengkonsumsi makanan yang tidak sehat akan membuat tubuh kita menjadi gemuk atau terserang beberapa penyakit tetapi kita tetap mengkonsumsi makanan itu (baca: fast food, mie instan, dll) karena pikiran kita memaknai makanan itu sebagai pleasure, membuat kita senang dan sangat dikenali oleh pikiran bawah sadar kita. Sedangkan makanan sehat seperti sayur adalah pain, karena membuat kita tersiksa atau benci dengan mengkonsumsinya. 

Nah, sebenarnya kita sendiri sudah tahu bahwa (kalau) kita berada pada posisi yang sama dengan si B atau si C itu tidak baik, dan harus memilih untuk keluar dari situasi tersebut (putus dengan pacar atau keluar dari pekerjaan), tetapi hal tersebut kadang enggan kita lakukan. Hal ini dikarenakan sesuatu yang menyakitkan tapi dikenal dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadar kita akan lebih dimaknai sebagai pleasure, bukan pain.

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya? 
Tentu kita harus mengubah pola pikir kita akan rasa sakit/penderitaan (pain) dan rasa senang (pleasure) tersebut. Lakukan secara berulang (repetisi) hingga menjadi kebiasaan dan mengubah pikiran bawah sadar kita. Buatlah dirimu menyadari perasaan sakit itu sekarang, kontrol pikiran serta emosi diri kita sendiri. 

Untuk mengubah pola pikir tersebut, kita bisa melatih kesadaran kita akan pain dan pleasure dengan melakukan 3 langkah sederhana berikut:
1. Pikirkan goal yang ingin kamu capai atau keputusan yang akan kamu ambil, dan tuliskan pada selembar kertas
2. Pada lembaran kertas tersebut tulis juga, pain jika kita tetap ada di posisi itu, dan sebelahnya lagi tulis pleasure yang akan kita dapat kita kita bisa meninggalkan posisi tersebut.
3. Visualisasikan dan tuliskan poin-poin tersebut pada pain dan pleasure

Contoh: 
Goal: aku suka sekali cemilan manis, ayo kita kurangi makan cemilan manis!
Pain (jika aku masih suka jajan dan makan cemilan manis):
- bikin bokek tiap hari karena jajan terus
- gula darahku naik bikin badan rasanya tidak enak
- gigiku sakit dan harus ke dokter gigi, mahal sekali biaya periksa gigi
- dst

Pleasure (jika aku sudah berhenti makan dan jajan cemilan manis):
- aku jadi bisa nabung karena nggak melulu jajan
- gula darahku normal, dan badan terasa segar yay!
- nggak ada cerita harus ke dokter gigi karena gigiku nggak ada yang berlubang
- dst

Kamu juga bisa lho menggunakan prinsip pain dan pleasure ini untuk memotivasi setiap pilihan yang kamu ambil. Selamat mencoba ya!


Cheers,
Lucia Berta 


*Foto: dokumentasi Folksy Magazine



You Might Also Like

0 comments

Subscribe