7 Majalah Indie Keren Favoritku

6:27 PM


Sejak kecil aku suka membaca dan berlangganan majalah. Mulai dari berlangganan majalah Bobo waktu sekolah dasar, lalu pas SMP-SMA berlangganan majalah Gadis dan Go Girl! Begitu sudah selesai kuliah aku ternyata masih tergila-gila dengan majalah, tetapi kali ini adalah majalah indie dari luar negeri.

Majalah indie dari luar negeri ini sangat spesial buatku, karena selain topik yang dibahas lebih bikin greget, aku mendapat banyak sekali inspirasi dari artikel-artikel mereka. Berbeda dengan majalah lokal di Indonesia, topik bahasan tidak melulu tentang cinta-cintaan, cerita artis, masa sekolah, musik, fashion, dll. Mereka lebih membahas tentang handmade stuff, proses kreatif, craftmanship, mindfulness, dan beberapa creative writing (begitu aku menyebutnya) yang mengulas tentang hal yang tidak terduga atau sederhana tetapi ternyata menarik untuk diulas. Misalnya saja, disalah satu majalah indie-ku, ada artikel yang mengulas hubungan bos dan para karyawannya yang dipererat dengan makan siang bersama. Ebuset hanya makan siang, tapi ternyata ada keuntungannya juga ya tujuan dari aktivitas sederhana itu. Diceritakan lebih lanjut, ada beberapa hal yang menjadi keuntungan dengan adanya kebiasaan itu, salah satunya bisa meningkatkan kinerja mereka. Kok bisa? Iya, disaat makan siang ada obrolan yang lebih terasa adanya perhatian dan kebebasan antara bos dan karyawan untuk saling mengerti satu sama lain. Si karyawan merasa dihargai dengan didengarnya keluh kesah atau hal yang mungkin menghambat dirinya saat bekerja. Begitu pula dengan si bos, secara nggak langsung dia bisa mengerti apa saja kendala yang selama ini dirasakan para karyawan. Cerita itu juga ditulis dengan bahasa santai dan personal (nggak pakai poin-poin gitu kayak materi kuliah hehe) sehingga jadi enak dibaca. Dan masih banyak artikel menarik lainnya yang tidak bisa aku ceritakan satu persatu.

Majalah indie saat ini lebih berjaya daripada majalah mainstream, karena selain memiliki desain tampilan yang kreatif, tema majalah juga sangat menarik dan sesuai dengan segmentasi pasar yang memang mereka jadikan target (contohnya: art, craft, parenting, sport, indie music, design, dll).

Ada banyak majalah indie menarik diluar sana, tetapi aku baru punya 7 majalah yang menjadi favorit, bahkan sampai aku bela-belain untuk beli di luar dengan cara online (ini bagian yang paling nggak enak, untuk di kantong hahaha). Oke, berikut 7 majalahnya (urutan bukan berdasarkan yang paling favorit ya, random saja yang langsung aku pikirkan):

Kalau kalian pecinta hal-hal berbau slow living pasti sangat kenal dengan majalah dari Portland ini. Ya, majalah Kinfolk yang covernya sangat estetik sehingga sering dijadikan properti di foto-foto anak Instagram. Desainnya yang minimalis, sepertinya lebih memperkuat di penulisan artikel mereka sebagai penarik pembacanya. Aku sangat menikmati tulisan-tulisan disetiap edisinya (meskipun aku bukan penganut slow living), topik yang dibahas sangat sederhana tapi ngena banget dipikiran kita, itulah yang bisa aku simpulkan dari majalah ini. 



Ini adalah majalah paket komplit! Kalau kalian pecinta hal-hal kreatif, kalian bisa menemukan berbagai macam inspirasi di majalah ini. Topik yang dibahas mulai dari art, craft, design, photography, music, interior, fashion, books, dan masih banyak lagi! Komplit kan? Majalah ini berasal dari Australia, dan merupakan majalah indie pertama yang membuat mataku terbuka dengan majalah indie luar negeri. Sejak mengenal majalah Frankie aku jadi ketagihan untuk mencari majalah indie lainnya. 

Smith Journal ini menurutku adalah Frankie edisi cowok. Selain tim redaksi Smith Journal orangnya ada yang sama dengan tim redaksi Frankie, serta perusahaan yang menaungi mereka sama,  topik yang dibahas juga hampir mirip dengan Frankie. Akan tetapi artikel Smith Journal aku rasa "lebih berat" dan diperkuat sisi cowoknya dengan menambah topik yang sebagian besar (biasanya) digemari oleh laki-laki misalnya seperti teknologi, adventure (outdoor, nature), science, dll. Awalnya aku nggak terlalu tahu dengan "kehadiran" Smith Journal ini (padahal ada sejak 2011 dan aku telat banget ngertinya). Bentuk majalahnya lebih besar dari majalah lainnya, dan cover majalah yang sangat cowo jadi bikin aku nggak tertarik pada pandangan pertama melihatnya. Tapi begitu baca artikelnya, menarik sekali ternyata, dan jadi nggak mau berhenti bacanya. Ada artikel pengetahuan yang receh juga yang bikin aku sedikit surprise, contohnya di Smith Journal volume 3, ada artikel berjudul 'Bad Inventions', yang berisi beberapa penemuan terburuk yang pernah diciptakan di dunia ini. Serius, artikel ini benar-benar bikin aku memperhatikan sesuatu yang sederhana secara detil hahaha. 


Majalah dari Belanda ini sudah sangat terkenal dan dicetak dalam beberapa bahasa. Mengklaim sebagai majalahnya para pecinta kertas (magazine for paper lovers), majalah Flow sangat konsisten dalam mempertahankan klaim tersebut. Hal ini bisa kita lihat dari bonus-bonus gratis yang merupakan pernak-pernik kertas (seperti: notepad, postcard, pembatas buku, dan masih banyak lagi), lalu Flow magazine juga rutin membuat satu buku berisikan 300 lembar paper goodies (pernak pernik dari kertas semua) namanya Book For Paper Lover, dan kalau kalian memiliki majalah Flow pasti melihat secara gamblang kalau mereka menggunakan beberapa jenis kertas untuk satu majalah. Seniat itu mereka ya? Iya, aku sampai nggak mau lihat biaya produksi mereka hahaha pasti luar biasa untuk satu majalah saja. Topik yang menjadi bahasan di Flow adalah mindfulness, interview maker/artisan, craft, art, gaya hidup, dan masih banyak lagi.

Dibuat oleh seorang wanita bernama Ellie Smith, yang berdomisili di New Zealand, Extra Curricular ini lebih kulihat sebagai zine bukan magazine. Tim redaksi selalu berubah disetiap edisi (sepertinya nama tim redaksinya juga merupakan kontributor yang dia interview untuk ditiap edisinya), majalah ini bertahan hanya sampai edisi ke 20. Sekarang mereka sudah tidak menerbitkan majalahnya lagi, sangat disayangkan karena aku sangat suka. Kertasnya tebal dan bagus banget (recycle paper lagi!!), ukuran majalahnya yang hanya berukuran A5 sangat handy bisa dibawa kemana saja. Kekurangan yang aku lihat (aku punya 2 edisi, yaitu edisi 9 dan 19) majalah ini hanya berisikan interview maker/artisan, tutorial craft, resep masakan, dan review produk handmade saja, tidak ada rubrik lainnya lagi. Majalah ini juga tergolong tipis dengan 60 halaman saja. Meskipun begitu aku tidak menyesal sudah menghabiskan banyak uang untuk membelinya (ongkirnya lebih mahal daripada harga majalahnya huhuhu).

 



Ini majalah yang sedang sangat aku gila-gilai. Desain oke, colorful, font hurufnya aku suka, tema dan tulisannya juga menarik, majalahnya tebal, foto juga oke. Kalau kalian hapal dengan tim redaksi Frankie Magazine yang berhasil melejitkan majalah Frankie, tentu akan familiar dengan orang yang ada dibalik Lunch Lady juga. Lara Burke dan Louise Bannister, keluar dari Frankie untuk membuat publisher sendiri bernamakan We Print Nice Things, dan Lunch Lady adalah karya pertama mereka yang sukses menjadi majalah yang mengulas seputar pengasuhan (parenting). Majalah Lunch Lady ini bekerjasama dengan seorang mantan blogger bernama Kate Berry. Majalah Lunch Lady membahas topik tentang food (kamu akan banyak melihat resep rumahan), parenting (pengasuhan, karena secara Kate juga seorang ibu dengan 2 anak), craft, dan gaya hidup keluarga muda. Majalah ini mengulas segala hal tentang keluarga muda yang kekinian, jadi bisa aku bilang sangat menarik dan kreatif. Harga majalahnya termasuk mahal, belum lagi ongkos kirimnya ke Indonesia. Kalau kalian punya teman yang sering atau sedang ada di Australia, mendingan kalian titip beli saja sama mereka untuk irit ongkos kirim haha. 


Sama seperti Extra Curricular magazine, Daphne's Dary juga dibikin oleh seorang wanita bernama Daphne. Sebenarnya salah satu tim Folksy yang menemukan majalah ini waktu dia jalan-jalan ke toko buku Periplus, dan karena majalahnya bagus dia pun langsung kasih tau aku. Aku jadi ikutan beli deh. Majalah ini mungkin sangat disukai perempuan pecinta shabby chic ya karena selain cover yang banyak gambar bunga (selalu ada bunga di setiap edisinya), isinya nggak kalah cantik dengan adanya ilustrasi berwarna pastel. Foto-fotonya juga keren! mampus deh kalau lihat majalah ini, tiap buka lembar baru selalu bilang "cantiiiik" dan "cantik bangeeet". Topik yang dibahas seputar gaya hidup perempuan, seperti craft (ada tutorialnya, kebanyakan tutorial home decor), resep masakan, interior rumah, apapun yang disukai perempuan deh. Majalah ini juga banyak bonusnya, sama seperi Flow magazine, bikin tambah seneng. Artikel yang paling bikin surprise buatku adalah ketika ada artikel membahas kebun halaman belakang rumah seseorang (bukan maker/artisan, tapi random people gitu yang memang punya kebun yang cantik). Ceritanya seputar apa saja aktivitas dia dan keluarga besarnya di kebun itu dan gimana cara memeliharanya. Wow sekali bukan? haha 

Oke, sudah banyak banget ya yang aku bahas, tetapi jujur masih ada 2 majalah indie lagi yang aku penasaran banget pengen beli dan aku ulas disini, yaitu Gusher Magazine, majalah indie yang bikin 2 cewek dari Inggris yang suka dengan gig band indie khusus perempuan. Jadi di majalah itu terasa banget nuansa feminisnya. Sangat menarik buatku karena jarang ada majalah yang mengulas skena band indie perempuan dan segala hal tentang skena tersebut. Yang kedua adalah Caboodle magazine. Caboodle juga dibikin oleh 2 cewek (awalnya), tapi sekarang hanya tinggal seorang saja yaitu Kayti Peschke dibantu 5 tim lepasan. Kalau aku lihat di website dan instagramnya, majalah ini hampir mirip Folksy magazine (uhuk!), ada craft, art, fashion yang diulas dengan tampilan berwarna warni. Kalau kalian juga penasaran dengan 2 majalah tersebut, jangan sampai skip baca blog aku ya :)


Cheers,
Lucia Berta  

You Might Also Like

0 comments

Subscribe