Menentukan Tarif Diri Sendiri Sebagai Pekerja Kreatif

9:30 AM


Semua ini berawal dari percakapan sederhana dengan kakakku (seorang pekerja seni) yang "dilamar" untuk pekerjaan di sebuah galeri seni. Dia bercerita bagaimana awal mulanya, sampai pada gaji yang dia tawarkan untuk mempekerjakan dia. Dengan jelas dan gamblang dia mengeluarkan angka fantastis beserta alasannya. Ketrampilan dan pengalaman yang selama ini dia miliki dijadikan patokan untuk angka tersebut. Wow secepat itu dia bisa langsung mengerti apa saja keahliannya yang pantas diberikan nilai lebih. 

Sebagai pekerja seni atau pekerja kreatif yang bekerja secara "serabutan dan nggak tentu waktunya", kita selalu dihadapkan dilema untuk "memberikan nilai pada diri sendiri", benar nggak? Pertanyaan yang selalu muncul pasti: "Bagaimana ya caranya menentukan fee (gaji/bayaran) kita?". Susah dong tentunya, secara kita nggak kerja kantoran dengan jam kerja yang rutin.

Pengalamanku bekerjasama dengan sesama pekerja kreatif juga nggak jauh dari masalah kesulitan menentukan bayaran. Saat mereka kutanya, "fee yang kamu mau berapa?", mereka pasti menjawab dengan kebingungan dan senyum-senyum "Ngikut aja, nggak ngerti aku". Nggak seorang atau dua orang, banyak yang seperti itu. Kalau aku lihat kemungkinan hal ini dikarenakan (terutama di Jogja ya haha) sungkan untuk bilang karena takut kalau terlalu mahal atau malah terlalu murah (nggak tau standardnya berapa), disamping itu aku juga merasakan (bahkan beberapa kali mengalami) banyak project "terima kasih" alias bantu-bantu atau kerjasama tetapi hanya bersifat pertemanan dengan balasan terima kasih sehingga tidak terbiasa menentukan bayaran, atau memang mereka tidak sadar skill (ketrampilan) yang mereka miliki untuk dijadikan standard bayaran. 

Jujur aku juga kadang masih kebingungan menentukan bayaranku sendiri. Selain berpatokan pada sistem kerja dengan per project, per karya, atau per jam kerja, kita kadang nggak sadar bahwa selama ini kita punya value (nilai) yang bisa digunakan untuk menentukan fee diri kita sebagai pekerja kreatif.

Aku akhirnya mencari tahu apa saja yang ada pada diriku yang memiliki nilai tinggi dan bisa kujual (P.S.: nah disini kita perlu agak sedikit besar kepala ya kalau memang kita tahu kita punya tingkat skill yang lebih tinggi dibanding teman yang lain haha). Disamping itu aku juga mulai belajar dan meningkatkan beberapa ketrampilan yang bisa menambah kualitas diriku.  Misalnya, aku sudah tahu nih bagaimana bikin video tetapi ada hal-hal teknis lain yang aku kurang kuasai, jadi aku mulai mempelajari lagi bagian tersebut. 

Oya menurutku ini juga bisa digunakan untuk kalian yang belum memiliki banyak pengalaman bekerja di suatu tempat tetapi ingin menjadi kandidat yang diperhitungkan saat melamar pekerjaan, yaitu perbanyaklah value (nilai) diri kalian. Nilai itu bisa berupa ketrampilan, kualitas diri, kemampuan diri, dan masih banyak lagi. Pengalamanku sewaktu merekrut tim, beberapa kali lebih memilih untuk memperhatikan pada tingkat ketrampilan/kemampuan yang dimiliki di CV daripada pengalaman kerja mereka haha, karena terkadang pernah bekerja di beberapa tempat tetapi ketrampilan tidak bertambah atau dengan kata lain banyaknya pengalaman itu tidak digunakan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri mereka. Hasilnya begitu diterima dan bekerja pada kita, mereka nggak bisa menggunakan ketrampilan mereka dengan baik, hanya menang kerja di banyak tempat aja.

Kalau kita secara sadar sudah mengenal kualitas, kemampuan, dan ketrampilan diri, kita bisa  mulai menentukan standard harga kita sendiri. Be confident aja, dan jangan lupa ketika ada harga tentu akan ada nilai yang sesuai yang harus bisa kita berikan.

Apakah sekarang sudah mulai terbayang bagaimana memetakan kisaran fee kita? Semoga bisa membantu memberikan sedikit pandangan ya. Goodluck!!


Cheers,
Lucia Berta



*Foto: dokumentasi Folksy Magazine

You Might Also Like

0 comments

Subscribe