I Spent My Birthday Alone and I Feel Good

7:51 PM

Beberapa hari yang lalu, aku berulang tahun ke-22. Jujur, aku merasa tua, hehe. Lewat tengah malam pada Pukul 00.10 WIB, seorang yang spesial memberiku tiga hadiah. Sebuah lagu berdurasi dua menit, lukisan diriku, dan kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri. Sayang, aku tidak bisa makan kuenya, ia berada di tempat yang jauh dan memberikannya melalui video call. Akhirnya, dia yang makan kuenya untukku dan rasanya asin, katanya. Aku senang dan bersyukur, aku mengawali hari ulang tahunku dengan orang yang sangat mengerti diriku. Meskipun secara fisik aku sendirian, namun sangat mengesan. Aku meniup lilinnya secara virtual. Lagi-lagi, dia meniupkannya untukku.


Lalu, aku tidur saat subuh dan bangun agak siang. Kemudian, membuat list hal-hal yang akan kulakukan hari itu tanpa diganggu siapapun. Kurasa, memang tidak ada yang akan mengganggu. Aku membereskan kasur, meja, dan beberapa peralatan di kamarku lalu pergi ke salon untuk creambath. Sudah sangat lama terakhir kali pergi ke salon, hari ini aku ingin menyenangkan diriku, pikirku hari itu. Selesainya, aku makan sayur-sayuran favoritku yang dicampur jadi satu dalam semangkuk sup ayam.

Perutku kenyang dan badanku terasa hangat, aku merasa bersyukur. Sambil menikmati sore, kulanjutkan perayaan pribadiku dengan pergi ke sebuah coffee shop yang letaknya cukup jauh dari kontrakan, sekitar empat kilometer lebih jaraknya. Seperti biasa, aku membawa buku yang sedang ingin kubaca, agenda, buku corat-coret pribadi dan beberapa pena berwarna. Kali ini, aku tidak membawa laptopku. Aku memilih tempat duduk dan menuliskan segala hal yang kulihat pada waktu itu. Cuacanya agak mendung, tak lama gerimis datang dan aku yang semula duduk di luar, pindah ke dalam ruangan. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke tempat itu, cukup nyaman untuk menyendiri dan membaca buku atau menulis sekenanya. Pesananku, kopi tubruk dan churros sebagai kue ulang tahunku.

Kunikmati malam itu sendiri, takkan kusebutkan tanggalnya, tapi ulang tahunku jatuh pada Hari Sabtu. Jadi, coffee shop itu cukup ramai pengunjung. Tak masalah, karena tempatnya luas, sampai akhirnya serombongan keluarga datang dan menggeser-geser meja. Menimbulkan dencitan yang mengganggu, akhirnya aku memutuskan untuk pulang tepat pada Pukul 21.00 WIB. Selesai, itulah yang kulakukan untuk diriku sendiri saat hari ulang tahunku. Lalu, apa yang kurasakan dan kupikirkan?

Aku tidak yakin, bahwa ini penting untukmu yang sangat menginginkan pesta pada hari ulang tahun. Karena kamu pasti akan menganggap ini sebagai tulisan seseorang yang merasa kesepian di hari ulang tahunnya, atau membayangkan betapa muramnya wajahku saat itu. Tidak, aku justru sedikit berefleksi tentang hari ulang tahunku pada tahun-tahun sebelumnya. Dimulai saat masih balita, dikelilingi keluarga dan orang terdekat. Kemudian saat remaja hingga awal dan pertengahan kuliah, dikelilingi teman-teman. Namun, semakin lama semakin sedikit orang yang ada di hari ulang tahunku dan aku merasa membaik.

Bukan berarti aku tidak suka dengan orang yang senang berpesta atau dikelilingi banyak orang saat hari ulang tahunnya. Tapi, mungkin memang itulah yang sungguh mereka inginkan. Sedangkan aku, tidak begitu menyukai pesta ulang tahun dengan banyak orang. Pada tahun-tahun sebelumnya, sudah sangat lama, aku terpaksa melakukannya karena tidak ingin terlihat menyedihkan atau dianggap anti-sosial. Mengapa bisa terlihat menyedihkan? Bayangkan, ketika kamu makan sendirian saja banyak orang yang mengasihanimu (padahal kamu baik-baik saja), apalagi melewatkan hari ulang tahunmu sendirian.

Saat ini, usiaku menginjak 22 dan aku sampai pada tahap tidak lagi memikirkan apa yang orang lain harapkan dariku. Selama aku bahagia, tidak merugikan orang lain, dan melakukan hal positif, aku akan terus lakukan. Sedikit banyak, pasti kamu terpikir berapa orang yang mengingat hari ulang tahunku, lalu akhirnya memberi ucapan? Tidak perlu susah-susah menghitung kok, enam orang. Ya, dari hampir seribu followers Instagram  yang aku punya, ratusan kontak di akun LINE dan WhatsApp, kolega di pekerjaan, komunitas, atau kuliah, ternyata di dunia nyata hanya enam orang. Perbandingan yang cukup signifikan untuk mendorong off  dari dunia maya dan orang yang tak benar-benar mempedulikanmu bukan? Haha, aku bercanda. Tak semua orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, berarti tidak peduli padaku. Maksudku, hari ulang tahun bukan sebuah momentum sakral bagiku. Jadi, bukan berarti mereka yang lupa hari ulang tahunku, tidak baik padaku.

Aku sampai pada tahap dimana aku tidak lagi mencoba memberitahu pada dunia, khususnya warganet bahwa pada hari yang bersangkutan aku berulang tahun. Seseorang memberiku hadiah, beberapa mengucapkan selamat dan doa, aku menyimpannya untukku sendiri dan berterima kasih secara langsung. Bahkan, jika bisa aku ingin berterima kasih langsung dengan bertatap muka. Tidak perlu menggunakan Insta story yang secara langsung memberitahu dunia bahwa, “Hey, aku ulang tahun hari ini.” Bukan berarti yang seperti itu tidak baik, sekali lagi. Setiap orang punya cara masing-masing dengan hidup masing-masing. Tapi, sebagian introver mungkin melakukannya, sama sepertiku atau mungkin dengan cara yang sedikit berbeda.

Pada akhirnya aku paham, tidak semua orang punya waktu dan tenaga untuk mengingat atau mencatat beberapa hal dari seseorang, termasuk tanggal ulang tahun. Kemudian, tergantung seberapa penting orang itu bagimu. Dulu saat masih kanak-kanak, aku selalu ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada teman-teman dekatku (kurasa, dan jumlahnya banyak). Akhirnya aku membuat kalender ulang tahun. Sisanya jika ada kesempatan, kubuat hadiah kecil hasil karya tanganku sendiri. Saat ini aku tidak melakukannya lagi, karena jumlah orang yang berarti dalam hidup makin berkurang. Namun, kualitasnya bertambah karena kamu akhirnya menyadari siapa saja yang pantas menyandang kata “berarti” untuk hidupmu. 

Usia 22 menjadi sesuatu yang membuatku berpikir kembali  tentang pencapaian dan hal-hal apa yang sebenarnya kuinginkan dalam hidup. Tentunya, tidak bisa terjadi jika banyak orang mengelilingiku. Tentang pengalaman pertama kali menghabiskan hari ulang tahun sendirian, aku mencoba bercerita bahwa ada sesuatu yang sangat penting tentang hidup lebih tenang dan fokus. Lebih lagi, menjadi seseorang yang lebih hangat untuk diri sendiri dan orang yang berharga bagimu.


Writer: Angela Shinta
Pernah dipublikasikan di Folksy Magazine edisi 15

You Might Also Like

0 comments

Subscribe